8 (Part 5)
Lorong kehidupan
OKTOBER 2003, orang tuaku datang mengunjungi kami. Masih terekam dengan baik kunjungan pertama mereka di tahun 2001, saat itu mereka tidak langsung menuju Prancis tapi kami bertemu dahulu di Swiss, karena bapakku harus menghadiri suatu acara. Selama di Genewa ibu tak berhenti menanyakan apakah tempat tinggal kami seperti ini atau itu setiap kali dilihatnya apartemen yang menarik perhatiannya. Tentu saja aku jadi miris, karena takut orang tua akan kecewa ketika nanti menginjakkan kakinya di tempat kami. Mereka yang biasa hidup dalam bangunan 400 meter persegi harus berjejelan nantinya di tempat kami.
Untungnya ketika mereka memasuki bangunan tempat kami tinggal, ucapan yang keluar dari mulut mereka adalah ” bersih dan enak” entah untuk menyenangkan hati atau yang lainnya, buat kami yang penting saat itu, orang tua tidak menampakkan muka kecewa.
Satu hal lain yang juga membuat kami berdebar adalah pertemuan pertama antar besan, kedua orang tua kami hanya saling kenal lewat tanyangan surat dan telpon, itupun ketika David masih berstatus anak asuh ketika dia melakukan pertukaran pelajar di Jakarta dan menetap di rumah kami selama setahun. Kisah selanjutnya menjadi begitu rumit ketika hatiku dan David berpaut, bila ada istilah banyak aral melintang dalam suatu hubungan, yang kami alami boleh di bilang tsunami. Namun pernikahan yang pada akhirnya membuahkan cucu pertama di kedua belah pihak berakhir dengan surutnya gelombang. Pertemuan antar besan itu memang membuat aku dan David susah sekali menelan ludah, tiba-tiba saja air liur menjadi begitu mengganjal dan kukenal benar sifat suamiku itu bila gelisah menjadi sering batuk tanpa sebab.
Bekunya es antara kedua belah pihak menjadi cair begitu saja ketika tangan saling berjabatan, lega rasanya dada melihat kata-kata akhirnya mengalir dengan ramah dan santai diantara mereka. Semenjak itu komunikasi antar mereka saling menyambung, lewat tulisan atau suara. Kini untuk pertemuan kedua tentu saja mertuaku lebih banyak menyiapkan banyak hal, jamuan makan di restauran dengan menu provençal, jalan-jalan mengelilingi kota Nimes tempat mereka tinggal dan di akhiri dengan jamuan teh di kediaman kami.
Untuk menyenangkan hati kami, orang tuaku mengajak kami saat itu berlibur ke Barcelona. David suamiku yang mandiri bahkan boleh di bilang terlalu berlebihan dalam hal ini, menyambut usul mereka dengan syarat saling berbagi dalam liburan keluarga, yang berarti soal akomodasi atau hotel atau yang lainnya. Kesepakatan di dapat, kamipun pergi berlibur 5 hari lamanya. Orang tuaku memang tak terlalu mengenal adat suamiku bila berlibur, biasanya acara santai jarang mampir dalam agenda David. Ketika mengunjungi suatu kota atau negara maka buku wisata akan daerah itu sudah pastinya di lalap sebelum keberangkatan dan dilingkari tempat-tempat yang akan di kunjunginya. Satu hari berpergian dengan David sudah pasti di jamin telapak kaki akan meleleh seperti selai. Ibuku yang mempunyai masalah dengan lututnya tentu saja meringis terus mengikuti agenda liburan David, saat-saat terakhir liburan merekapun menyerah dan membiarkan kami meneruskan wisata sendiri, sementara ibuku memilih berbelanja pakaian atau tas, tentu saja aku lebih memilih yang satu itu tapi David pasti akan merasa senang bila perjalanannya di iringi oleh sang istri dan anak.
Bulan september di tahun itu, aku memutuskan kembali meneruskan kuliah bahasaku yang sempat terlantar. Di tahun itu pengajar serta teman kuliahku adalah orang-orang yang sangat mengasyikan, tidak seperti di tahun sebelumnya. Salah satu dosen pengajarku sebelumnya sempat bermasalah denganku ketika mulutnya mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas di ucapkan seorang pengajar. Terkenal rasis itu yang tak kumengerti, bila memang tak suka orang asing mengapa dia mengajar untuk orang asing? tingkah lakunya yang sering jadi bahan omongan membuatku melayangkan surat kepada fakultas, memang tak sampai di berhentikan tapi setidaknya cukup membuat kupingnya tersentil. Sudah berkali-kali memang bibirnya menghina kami orang asia, anehnya teman-temanku hanya berdiam, kata mereka bila bertindak takut nilai mereka yang jatuh.
Suatu kali, aku diperolok habis-habisan karena mempercayai tuhan, diriku bodoh, primitif dan tak realis menurutnya memang membuat geraham ini mengeras, untungnya salah satu murid swedia ikut membelaku dan katup si dosen itu merapat. Hingga suatu hari, di saat jeda jam mata pelajaran dia, wanita itu duduk dibelakangku dan berbincang dengan para murid dari bangsa eropa lainnya, dengan tenangnya dia memperolok kami orang asia, panas kupingku ketika kudengar dirinya berkata “orang asia itu kupingnya tuli, setiap di ajari bahasa prancis tak bisa tembus ke dalam kupingnya, otaknyapun tumpul tak mampu menampung kata-kata sulit..mereka benar-benar bodoh”.
Saat itu yang kulakukan adalah berdiri dan pamit pergi padahal mata kuliah belumlah usai, ketika dia bertanya akan kemana diriku? ku jawab dengan meniru orang tuli seolah-olah tak bisa ku dengar perkataannya dan akupun melengos pergi. Berdasarkan hal itulah aku minta di pindahkan kelas dan herannya si dosen ceriwis masih tetap mengajar. Tapi sudahlah pikirku bila suratku tak di gubris pimpinan dosen, yang penting aku sudah lakukan yang seharusnya kulakukan.
Kuliah selanjutnya berjalan begitu menyenangkan, kali ini teman kuliahku berasal dari banyak negara. Salah satunya seorang pria amerika yang berpaut 8 tahun di bawahku, pertama mengenalnya lucu benar melihat tingkahnya yang begitu sombong dan bergaya. Sebulan kemudian kami mulai saling mengenal, disitulah aku benar-benar mulai merubah pandanganku akan dirinya. Begitu banyak persamaan membuat kami sering mengobrol dan makan bersama, hingga suatu kali dia berkata jika diriku menarik perhatiannya. Tentu saja pada saat itu aku hanya menanggapi dengan humor, dan memang kuanggap dia sedang bercanda. Tapi lama kelamaan caranya memandang menjadi berubah, disitulah aku mulai merasa was was, karena bila si anak itu sampai jatuh hati pastilah tidak terlepas dari kesalahanku selama ini.
Semenjak itu makan siang kuusahakan bersama teman yang lainnya, dan akupun lebih sering membicarakan soal suami dan anak. Rupanya si amerika ini tak percaya bila aku benar-benar sudah menikah, hingga suatu hari dia mengajakku ke cinema dan kukatakan malam itu aku dan suami memang bersepakat untuk melihat film garapan Quentin Tarantino, kusebutkan jam tayang yang kami pilih. Tepat ketika aku dan David memasuki cinema, kulihat dirinya sudah menunggu, iba melihat rasa penasaran dirinya padaku membuatku benar-benar mengutuk diri karena terlalu naif terhadapnya selama ini. Malam itu kuperkenalkan secara resmi pendamping hidupku, David nampaknya peka akan situasi yang ada, mengajak teman kuliahku untuk duduk bersama kami.
Ternyata temanku itu memang berhati bersih, hubungan kami sebagai teman tetap berlanjut bahkan pada suatu acara di mana ku ajak David dan anakku dialah yang menemani keduanya berbincang, dan ketika kuliah berakhir di bulan juni tahun 2004, tengah malam usai menghabiskan waktu bersama kami bertiga saling bersalaman, aku dan David mengucapkan selamat jalan untuknya.
Musim panas di tahun 2004 tidak kami lewatkan di Prancis melainkan di tanah airku, selain untuk berlibur juga untuk pesta pernikahan almarhum adikku tersayang. Kembali dari tanah air, David mengabarkan berita gembira tapi juga menegangkan. Dirinya di tawari memegang penuh penerbitan untuk kemudian mengambil alih penerbitan tempat dia bekerja dikarenakan sang pemilik akan pensiun dan sudah letih mengurusi perusahaan itu selama puluhan tahun. Keputusan yang kuanggap sulit kuberikan, sebelum kami berpindah ke Prancis, David menjanjikan bahwa kami tidak akan tinggal lebih dari 4 tahun di negaranya. Pekerjaanku dulu sebagai jurnalis yang terpaksa kutinggal sering menggaruk-garuk kerinduan, sementara di kotaku pekerjaan sebagai jurnalis boleh dibilang nihil. Pernah kudapatkan kesempatan magang di salah satu stasiun tv nasional tapi tidak di kotaku, tentu saja kesempatan emas itu kulambaikan.
Bila David menerima tawaran emas itu, berarti kemungkinan kembali ke kampung halamanku semakin kecil malah mungkin menguap. Kuminta pada David untuk memberikanku waktu selama sebulan dan selama sebulan itu aku kecanduan kopi dan mojok di cafe dengan buku kecil di tangan yang tak berhenti menulis hingga kelingkingku membengkak. Aku tahu David tak mungkin menemukan pekerjaan di kampungku, buka usaha? kata itu terlalu sering meniup dalam telinga kami tapi usaha apa? modal dari mana? orang tua? tentu saja bukan sifat kami mengandalkan keberadaan orang tua masing-masing. Pertimbangan lainnya adalah dari segi sosial yang sejahtera di negara suami membuatku menciut setiap kali memikirkan biaya hidup di kampung halaman.
Ketika teman atau saudaraku di tanah air mengeluh panjang lebar soal biaya pendidikan yang tak masuk akal, aku malah kebalikan selain gratis, tiap kenaikan sekolah anakku menerima tunjangan untuk keperluan sekolahnya, dan bisa di bayangkan keperluan anak tk? selain tas baru dan sepatu baru atau hal kecil lainnya yang tak seberapa. Belum lagi masalah kesehatan, di sini pemerintah menanggung dana kesehatan warganya hingga 70% selebihnya asuransi pribadi tapi bagi warga yang tak memiliki pekerjaan atau gaji minimal maka tunjangan kesehatan di tanggung seluruhnya. Begitu juga untuk tempat tinggal terdapat dana bantuan dari pemerintah dan masih banyak tunjangan lainnya yang cukup menjadi pertimbangan berat bagiku. Tapi pendidikan yang mahal di negaraku memang menjadi ketakutan serius bagi masa depan anakku.
Buku notes hasil coretanku entah sudah berapa yang jadi korban, David dengan sabar menanti keputusanku. Tak pernah memaksa itu yang membuatku selalu luluh padanya, tak pernah di kekangnya aku sebagai istri. Lalu suatu hari dia pulang sambil berkata jika dirinya akan menerima sejumlah uang sebagai tanda pergantian pemimpin, jumlah uang yang lumayan bagi kami itu memang merupakan hal yang mungkin tak akan mampir dua kali. Lalu lanjutnya lagi, gajinyapun akan naik dua kali lalu ketika dirinya mengambil alih penerbitan maka keuntungan tentunya akan masuk kantong kami, tapi di lain pihak kesibukannya akan menjadi berlipat hingga sepuluh kali.
Malam itu, aku menangis di pangkuan tuhan di atas sejadahku, memohon, mengemis jawaban atas kebingungan yang berputar di kepala.
Bersambung