Natal Bagi Kami

Publié le par pasar


....Joyeux Noël.....



NATALAN? tentu saja tidak. Kami ini pengikut Muhammad kok! bahkan suamiku yang bule pun ikut jalannya. Makanya dulu ketika mertuaku datang untuk membicarakan soal natalan bersama mereka, jelas saja aku kebingungan. Seumur hidup pesta natalan itu aku ikuti karena pekerjaanku dulu sebagai jurnalis dan ketika berlibur kerumah teman di swiss, itupun dia atheis jadi benar-benar hanya basa basi, selebihnya ya mana pernah.


Maka ketika mertua perempuanku mulai nyerocos soal tema natal yang akan di ambilnya, begitu juga soal makanan dan daftar kado yang harus di bagikan untuk keluarga, aku mulai kegerahan. Lalu tanyanya lagi “apa aku juga akan memasang pohon natal?” bila iya, suaminya akan membelikan sekaligus dua pohon cemara..weleh weleh kata ku dalam hati kok ya makin berlanjut? herannya aku malah jadi gagu. Mungkin saking terpesona oleh semangat si mertua atau karena bingung apa wanita ini tidak engeh ya kalau kami ini tidak merayakan natal karena kami ini muslim?!


Begitu mertua pulang, aku jadi terpaku. “Tadi itu apa ya?” kataku dalam hati, akhirnya kuputuskan untuk menelepon suami, dan menceritakan kejadian yang baru saja lewat, tapi katanya nanti saja di rumah di bicarakan. Bagiku natal berarti  agama kristiani, jadi dibesarkan dalam lingkungan Islam yang taat tentu saja susah membayangkan bila diriku harus ikut bernyanyi yang mana seperti ku ketahu bernyanyi adalah panjatan doa bagi umat mereka, lalu bagaimana aku memberitahukan hal ini kepada orang tua? dan apa anakku nantinya tidak menjadi bingung?


Akhirnya kuputuskan untuk meminta saran orang tua, tapi perkataan mereka sungguh tidak kusangka, “datang sajalah ke rumah mertuamu, biar bagaimanapun dia adalah orang tua suamimu dan sekarang selama kamu berada di sana dialah pengganti kami” lanjutnya lagi “…asal kita hanya berpartisipasi dalam hal kebudayaan mereka saja, bila harus bernyanyi atau berdoa..tolaklah secara lembut..atau ikut sajalah toh hanya nyanyian..bukan panjatan bagi kamu...dan ingat jangan mudah tersinggung ku kenal benar sifatmu”.


Begitu suamiku pulang ku utarakan pendapatku juga saran dari kedua orang tua. Suamiku bilang pada dasarnya natal bagi keluarganya adalah  tradisi, tidak ada sangkut pautnya dengan agama beda dengan yang aku lihat di Indonesia. Tidak ada nyanyian, tidak ada acara berdoa, benar-benar merupakan pesta keluarga dan pembagian hadiah, sementara soal pohon cemara juga hanya merupakan dekorasi pesta natal.


Ketika hari natal tiba, kami sekeluarga datang ke rumah mertua, kado-kado yang sudah di beri nama kami letakkan di bawah pohon cemara, kulihat juga meja makan telah di tata begitu meriah dan cantik oleh mertuaku. Sanak keluarga suamiku pun telah datang mendahului kami yang justru berlainan kota dengan mertua dan kami.


Ternyata benar seperti kata suamiku, tidak ada nyanyian tidak ada doa, seratus persen pesta natal yang di isi oleh makanan lezat dan pertukaran kado. Tapi saat nenek kakeknya meminta anakku untuk memasang malaikat di puncak pohon cemara, hatiku sekali lagi di ingatkan bahwa semua itu hanyalah dekorasi saja dan tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Pesta natal pertama itu ku lalui akhirnya dengan gembira.


Semenjak kejadian itu pesta-pesta natal selanjutnya kulalui dengan tenang, bahkan aku menikmati benar suasana meriah yang menghiasai kotaku dan juga dekorasi-dekorasi cantik di kaca-kaca pertokoan. Di sekolah anakku pun tiap tahun selalu di adakan pesta natal bahkan anakku menulis surat kepada Santa Claus meminta kado apa yang dia inginkan untuk natal di tahun itu.


Agama Islam tetap kami perkenalkan kepada anak kami, dia mengerti kenapa kami melakukan shalat lima waktu, diapun ikut mengaji, tidak memakan makananan yang di larang agama  bila dia makan di kantin sekolah,  bahkan ketika ramadhan tiba bila tak bersekolah dimintanya aku untuk membangunkannya saat sahur agar bisa berpuasa setengah hari saja, katanya. Teman-teman di sekolahnya yang dulu menganggap kami ini orang tua jahat karena tidak pernah membelikan kado untuk anak layaknya orang tua lainnya mulai mengerti bila kami sekeluarga tidak bernatalan tapi ikut merayakan pesta natal.


Untung anak kami mudah sekali di beri pengertian, dengan tanggap dia tahu benar perbedaan arti lebaran bagi kami dan natal bagi  kami. Rupanya toleransi kami tidak sia-sia, boleh di bilang aku ini yang sering paranoid malah jadi terbuka lebar-lebar menyambut datangnya pesta natal. Kubantu mertua mencarikan ide dekorasi natal, atau kamipun berkirim kartu mengucapkan selamat natal kepada teman. Hasilnya bila lebaran tiba, mertuaku selalu ikut berpartisipasi dengan membelikan kami baju baru seperti tradisi di Indonesia kataku, teman-teman juga ikut turut mengucapkan selamat berpesta lebaran.


Tahun ini pesta natal tentu saja akan kami habiskan di rumah mertua bersama sanak sekeluarga lainnya, kado-kado yang akan diberikan sudah siap dari seminggu yang lalu. Mertua yang meminta saran untuk makanan dan juga rasa kue bûche (kue ciri khas natal di Prancis yang berarti batang kayu dan memang seperti itu bentuknya) untuk natal ini, kami tentukan bersama-sama. Seperti yang kubilang aku dan suami tetap menyambut natal demi kebahagiaan keluarga suamiku tapi hingga sekarang dekorasi natal atau pohon cemara memang tak pernah mampir ke rumah kami. Karena kami berpesta natal tapi tidak bernatalan..ternyata memang tidak susah bertoleransi dalam agama malah indah rasanya dan dengan tangan terbuka dan senyum lebar ku ucapkan selamat natal……..

Publicité

Publié dans Kompasiana

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :
Commenter cet article