Indonesiaku yang mahal

Publié le par pasar

Pulang kampung...

Setiap tahun hanya itu yang terbersit kapan dan berapa harga tiket yang cocok untuk kami sekeluarga.Dua tahun yang lalu ketika mudik kesenangan masih mampir dengan mudah dihati kami, tebar dan tukar mata uang euros pun masih bisa di lakukan sering-sering, kapan lagi menikmati kemewahan di negara sendiri.

Tapi alangkah terkejutnya hati ketika mudik tahun ini, semua harga yang masih diingat di kepala menjadi bertumpuk lipat kami pikir mungkin karena masih suasana lebaran maka tak heran semua menjadi naik. Tukar omongan dengan keluarga dan teman menjadi bukti bahwa bukan karena suasana idul fitri yang merubah kemahalan hidup di kota besar di Indonesia tapi memang seperti itu adanya. Dua tahun lalu kami masih bisa menraktir teman makan sekenyang perut dengan mengeluarkan kurang lebih  Rp.300.000 sekarang dengan harga yang sama kami bayarkan hanya untuk kopi dan jajanan kecil saja. Tapi teman-teman tentu saja tak mahu tahu pikir mereka toh uang kami tiga kali lipat di bandingkan mata uang mereka. Padahal apa yang kami bayarkan sama nilainya dengan benda yang kami dapatkan di Prancis.


Lalu berjalan-jalan lah kami ke pusat pertokoan besar seperti di kawasan senayan, pondok indah dan bunderan HI, apa yang kami lihat benar-benar membuat hati ini meringis. Tak habis pikir aku, bagaimana mungkin mereka begitu berani dan tenang memasangkan harga dengan deretan nol begitu banyak di belakangnya hanya untuk sehelai baju atau sepatu, apa benar orang indonesia sanggup membayar semahal itu lalu bilamana benar berapa penghasilan yang mereka dapatkan perbulan? kepalaku jadi berdenyut-denyut letih memikirkan Indonesiaku yang kini menjadi mahal dan begitu konsumtif.


Indonesiaku yang mewah membuatkan begah, betapa kontrasnya kehidupan yang terbentang di depan mata. Anakkupun menjadi berubah yang tertanam di benaknya adalah “kita di sini kaya ya mah, mobil bagus rumah besar pokoknya enak deh hidup di Indonesia” ngilu aku dengar anakku berbicara dengan polosnya. Tentu saja dia tak mengerti kemewahan yang terlewatinya di negara ibunya adalah milik kakek neneknya. Ku coba memberikan pengertian padanya namun aku tak yakin jiwanya cukup matang untuk mendalami diskusi kami.


Suatu hari ketika pulang dari berpelesir kami melewati penjualan martabak,  jajanan pinggir jalan yang selalu nikmat di kunyah di mulut. Alangkah kagetnya ketika melihat harga yang terpasang, martabak bandung istimewa rp.30.000. Inikah jajanan rakyat yang dulu tak lebih dari Rp.12.000? bagaimana mungkin bila jajanan rakyat saja sudah menjadi eksklusive, lalu orang-orang yang masih mengantungi nafkah Rp.650.000 sementara harus membiayai anak sekolah, makan sehari-hari dan bayar kontrakan, masih bisakah mereka menikmati martabak bandung yang legit ini?


Pertemuan dengan sanak saudara yang membawa buah hati mereka menjadi penghibur hati di tengah runyamnya kemahalan yang tak habis kujumpai. Namun apa yang kudengar dari para saudara membuat semangatku untuk hidup di tanah air menjadi meleleh, sekolah taman kanak-kanak yang bisa memakan biaya hingga Rp.10 juta karena kalau tidak anak-anak hanya bisa mendapatkan sekolah tak berkualitas atau kurang pendalaman agamanya.  Jadi kata mereka jangan heran bila orang tua lenyap di depan mata anak mereka sehabis subuh dan kembali setelah warta berita usai. Sedemikian mahalnya harga kehidupan di kota besar hingga harus di tebus dengan berkorbanya ibu dan ayah membanting tulang demi kesejahteraan keluarga. Lirihku bagaimana mungkin bisa sejahtera bila tak ada belaian kasih sayang orang tua, sejahtera kemudian hari ketika si anak beranjak besar? tak telatkah itu?


Indonesiaku yang dulu begitu manis dan bersahaja, setiap tahun ku pulang menciummu selalu saja kau semakin jauh dan sombong. Begitu mahalkah harga dirimu, hingga rakyatmu harus kau korbankan agar bisa menancapkan kaki dengan selayaknya di tempatmu? Salah siapakah ini, pemimpinmu kah yang mengajarkan kesombongan ini? terlalu banyakkah pembesar yang mengelilingi mu sekarang ini hingga rakyat kecilmu tak kau tengok kembali. Ku kira jaman penjajahan sudah berakhir lama kian, namun aku salah penjajahmu justru rakyatmu sendiri, bagaimana mungkin kau biarkan mereka merajangmu?

Ku tinggalkan Indonesiaku dengan hati sedih, mungkinkah dia akan memberikan kesempatan pada kami untuk bermukim di tempatnya suatu saat nanti tanpa harus menjadi bagian dari kesombongannya.

Oleh dinikusmana - 6 Desember 2008 - Dibaca 119 Kali -


Publicité

Publié dans Kompasiana

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :
Commenter cet article