Semenjak Adikku Pergi

Publié le par pasar

Kita berpisah lewat salammu dalam shalatku....


Maret 2009 adalah 1000 harinya, sebuah buku untuk mengenangnya akan di terbitkan orang tuaku. Tanda cinta, kenangan, tak ingin namanya terlupakan mungkin bisa menjadi buah tangan bagi yang menerima buku terbitan itu nantinya.


Ketika adikku pergi, bapak yang mengabarkan tanpa bisa ku ketahui ekspresi kedukaannya hanya suaranya yang begitu luka hingga awalnya tak kukenal siapa si penelpon. Barulah ketika tiba di tanah air kulihat kejatuhan dirinya di antara penjemput penumpang. Ayahku yang gagah yang penuh dengan kharisma bahkan sedikit di takuti begitu rentan, begitu lunglai, lehernya melengkung tak kuat menompang kepalanya yang penuh dengan beratnya pelepasan si anak. Ibu menyambutku dengan pelukan tapi matanya begitu kosong, tak dapat ku tebak apa yang terbesit di hatinya. Ku tahu kehilangan anak merupakan mimpi buruk yang bisa membawa maut.


Mulutku tergagap tak tahu kata apa yang harus terlontar melihat istri dan anak adikku yang kini menjadi janda dan yatim. Kata penyesalan ataukah belasungkawa? kacau sudah saat itu hatiku jadi kupilih berbicara terbatas takut perasaan dan pikiranku malah akan membawa kesuraman suasana. 

Satu tahun setelah adikku pergi, foto dirinya terpampang di setiap sudut ruangan, ibuku tak mengenal lagi keceriaan tak di sentuhnya lagi perhiasan kegemarannya, baju yang menempel terkesan ala kadarnya. Runtuhkah dirinya? sedemikian beratkah kepergian putra kesayangannya? Semua mencoba menghibur termasuk diriku, “tegarlah..hadapi ini dengan ketabahan..tawakal..pasrah dan ikhlas” namun tak ada kata yang ampuh menyembuhkan luka yang telah menganga besar di hatinya. Ketika dia tertawa ku lihat hanya mulutnya yang bergetar namun matanya meredup, bapakku yang mencoba mengagahkan kembali dirinya agar kepincangan antara dia dan istrinya menjadi seimbang hanyalah kasat mata.


Dua tahun kepergiannya, suasana mulai ceria ketika kami berkunjung ke tanah air. Ibu mulai berdandan bapak tengkuknya mulai sedikit menegak, namun kerinduan akan sang putrapun semakin menggebu. Kami keluar berpelesir sayang mata mereka masih tak bisa membohongi diriku, entah hanya diriku saja yang berperasa atau orang lain juga merasakan hal yang sama. Akupun merindukan dirinya namun ari mata kularang menetes di depan ibu dan bapak, tangisan kurasa sudah cukup deras mengalir, “adikku tak ingin kubanjiri kau dengan air kesedihan”.


Kata ibu suatu kali “betapa malangnya nasib adikku” saat itu kami sedang berada di suatu cafe lanjutnya lagi “orang-orang masih lalu lalang, masih bisa menikmati aroma kopi kesukaannya namun dia sudah berbaring tak bernyawa” mendadak aku menjadi bisu hatiku membeku kebingungan menyerang diriku karena sekali lagi tak tahu harus membalas dengan kata apa. Matikah perasaanku berbarengan dengan kematian dirinya.

Bukan perasaanku yang tak peka oleh suara-suara lirih orang tuaku namun kini aku sadar adikku yang selalu tertawa bahkan sering pula mentertawakan dirinya ku yakin tak ingin di baluri oleh penyesalan dan aliran air mata duka. Kata guru agama “mereka yang telah pergi masih bisa berkomunikasi dengan kita yang masih di alam nyata melalui mimpi”.

Entah  karena memang aku yang memaksa agar bermimpi atau memang ajengan ulama itu benar, kubertemu dengan adikku, tak ada komunikasi hanya selalu pertemuan dengan dirinya ketika kecil. Pertemuan itu terjadi berulang-ulang terakhir mimpi yang membuatku tersentak adalah ketika kakek dari pihak bapak datang menjemputku dan mengajakku ke suatu tempat, di rumah itu kutemui  orang-orang  terkasih yang sudah tiada berkumpul dan adikku ada bersama mereka. Itukah jawaban dari pertanyaanku mengenai keberadaan dirinya yang sengaja di perlihatkan dalam nyenyaknya tidurku?


Sebagai manusia biasa, hingga kini aku tak mengerti misteri alam sadar dan alam bawah sadar. Bahkan ketika maut datang menjemputpun aku tak mengerti kenapa dan mengapa harus terjadi di saat itu. Tuhan sang pencipta yang begitu kuasa atas nyawa manusia kadang membuat diriku merinding, membayangkan dia mengambil nyawa ciptaannya dengan suruhannya izrail karena kontrak kehidupan seseorang telah usai. Ketika nyawa tak bersatu lagi dengan raga apakah yang terjadi? benarkah mereka masih bisa melihat manusia di alam nyata? hanya saja mereka tak di beri daya berkomunikasi.


Tahun depan 1000 hari adikku berpulang ke Rahmatullah, di sinilah manusia di berikan daya berpikir untuk merenungkan arti kehidupan yang membentang di hadapannya. Aku mengakui hingga kini masih tak menentu dalam menghadapi garis hidup yang harus di jalani, masih ada kebingungan masih tak mengerti apakah memang benar semua manusia akan berakhir hanya dalam dua dunia akhirat yaitu surga dan neraka.


Dulu kematian seseorang hanya membawa sedih hatiku lalu sembuh dengan berjalannya waktu, sekali-kali merasa rindu dengan kepergiannya, namun semenjak adikku pergi renungan tentang arti hidup di alam nyata untuk nantinya kubawa ke alam akhirat menjadi tanda tanya besar dalam pikiranku. Akankah bekal amal ku mendaratkan diriku dalam surgawi? seberapa duka yang  berkepanjangan atas kepergianku? karena aku tak ingin orang yang kucintai terluka. Bila saja kepergian seseorang tidak lagi sebuah misteri? berubahkah kita?

Oleh dinikusmana - 9 Desember 2008 - Dibaca 144 Kali -
Publicité

Publié dans Kompasiana

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :
Commenter cet article