Hot summer
So...... chaud! hot! panas!
Hitam deh...! begitu selalu orang mengeluh ketika aku masih tinggal di Indonesia. Sekarang setiap musim panas yang kulihat jemuran warna warni handuk di jepit tubuh si pemiliknya. Bentuknyapun beraneka ragam ada yang besar ekstra besar ada pula yang ramping seperti model sampul majalah dengan buah dada menjulang tegak. Anak-anak belepotan pasir karena asik mengeruk pasir pantai untuk dibentuk sesukanya, termasuk anak ku tentunya. Biasanya setiap musim panas kami selalu bercengkerama dengan pantai dan laut tapi tahun ini kelahiran Bazile melarang kami untuk melakukannya. Selain sengatan matahari yang membahayakan kulit bayi, anak keduaku rentan oleh panas. Tak apalah kata ku toh suamiku dan si sulung bisa berpergian berdua. Sebenarnya akupun musim panas ini tidak terlalu bersemangat berleha-leha di pantai, karena donut ku masih belum hilang habis melahirkan. Biarpun David selalu geleng kepala karena aku terlalu mempedulikan pendapat orang dan menurutnya pun aku tidak gemuk tapi tetap saja aku merasa masih gerah kalau harus bertemu dengan baju renang seksiku yang tidak seksi di pakai pemiliknya.

Bicara soal musim panas, di tempat tinggalku yang berada di selatan terkenal dengan kehangatan pasir pantainya dan bakaran matahari yang membuat kulit pucat menjadi tembaga. Untuk mendapatkan warna sesuai dambaan mereka, berjam-jam mereka menjemur tubuhnya seperti memanggang sate, di bolak balik agar warnanya merata, tentunya payudarapun tidak boleh berbeda warna hingga dua gunungpun menjadi tebaran yang sudah biasa di pandang mata, tapi tetap saja tidak biasa bagiku.
Di kota kami Montpellier pantai yang bernama Palavas terbagi secara tidak sengaja dengan berbagai golongan pendatangnya. Ada yang bagian untuk keluarga sehingga payudarapun tidak terlalu jadi tontonan, ada yang benar-benar alergi dengan pakaian hingga rumput kemaluannya pun terlihat subur di sepanjang pantai tapi yang sering membuat suamiku merinding bila kami salah pantai lalu kanan kiri berteman dengan para pasangan sejenis yang tidak terbungkus sehelai benangpun. Para pengunjung ini sering jadi gerutuan para pendatang lainnya juga, karena sudah tubuh tak terbungkus mereka dengan asiknya bermain bola atau badminton pantai, pemandangan yang membuat mata menjadi ruyam.
Kebebasan yang berlebihan menurutku sering membuat kami merasa tidak nyaman membawa anak kami kepantai, sehingga sebelum handuk di tebarkan di atas pasir suamiku turun lebih dahulu dari mobil untuk meneliti bila si pantai pantas di jadikan sarana hiburan kami. Biapun suamiku berdarah asing tetap saja matanya terasa sepat katanya melihat tubuh telanjang tak bermalu.