Pastel kehidupan

Publié le par pasar

Pelangi-pelangi alangkah indahmu.....



Kenapa warna? kenapa pastel? karena hidupku penuh dengan warna kalau soal pastel karena lebih enak di sebut dan singkat dari pada pada pensil warna atau spidol warna yang kurang harmonis di pakai untuk gambaran hidup.

Tahun lalu tepatnya bulan yang sama kami masih bertiga, biasanya jam segini aku sedang berkutat dengan program cinema untuk tengah hari. Kini jangankan cinema program sehari-hari adalah "tadi jam berapa ya si raja minum susu terakhir?" atau menelusuri agenda agar tak lupa dengan janji dokter atau kinésithérapie belum lagi  melacak persediaan  susu,  popok atau lotion bayi.

Kehidupan seseorang memang cepat berubah  tentunya bila kita menyadari, namun banyak orang yang tak engah bila hidupnya di penuhi pelangi. Sering kudengar orang bicara "bete nggak sih dari pagi sampai malam sampai besoknya begini terus..."!
Sadarkah mereka yang begini terus itu padahal di hiasi oleh jenggalan batu walaupun hanya sekerikil saja. Sayangnya manusia sekarang menjadi terlatih hatinya oleh kekerasan baja, tubuhnya dengan lilitan bahan kimia bercap nama-nama perancang terkenal yang tentunya 70 persen adalah palsuan, mulutnya terlalu sering mengunyah makanan dari pendapatan tak halal hingga saja perutpun menjadi lapar terus lalu mulai menggerogoti temannya si mata agar terlatih memancing sasaran dan kedua tanganpun jadi sergap meraup apa saja yang bisa di raihnya tak peduli apakan benar tak peduli menimbulkan korban. Dan beballah mereka.

Sudah bertahun-tahun hidupku jauh dari kehidupan profesional, begitu orang menyebutnya. Karena kini aku adalah ibu rumah tangga dengan dua anak. Menjadi ibu bukan sesuatu yang profesional siapa saja bisa, dengung para kaum hawa. Aku setuju siapa saja bisa jadi ibu, bahkan wanita mandulpun bisa menjadi ibu dengan cara membeli anak di panti asuhan, namun bisakah menjadi "IBU" dengan menatap mata si anak kapan saja dia membutuhkan, mengusapnya ketika badan memintanya bahkan tanpa dimintapun karena aliran listrik sayang. Membuka kedua kuping lebar-lebar mendengarkan kicauan merdu dan sengau si buah hati atau mengolah bahan baku menjadi santapan lezat si mulut kecil. Belum lagi berkejar-kejaran dengan ketepan waktu membagi diri dengan segudang kegiatan anak dan diri kita sendiri. Tidak profesional kah itu? semua perempuan sanggupkah melakukannya tanpa peran si bibi?

(anakku bangun coretan nanti aku terusan..mungkin besok atau lusa atau kalau sempat...maaf statusku adalah ibu profesional...) berlanjut.....

Maaf bila ocehanku terpotong cukup lama, karena kemarin aku di sibukan oleh tumpukan cucian yang harus di hilangkan noda dan baunya oleh si mesin electrolux.
Kehidupanku yang kini yang sebagian besar di putar oleh suami dan kedua anakku memang terlihat sama di kasat mata. Pagi sehabis mandi dan sembahyang subuh bila tidak kesiangan langsung mengurus dua buah hatiku, sementara pendamping bule ku berkicau dengan alasan yang sama malas pergi ke kantor, padahal kalau sudah bekerja waktu makan siangpun sering di abaikan.

Setelah si sulung ku lepas di sekolahnya biasanya pikiranku bila tidak ada kegiatan pasti mulai berkelana, dari mulai nongkrong minum cafe di kota, jalan-jalan ke taman, lihat pameran atau menghamburkan uang suami di surga baju dan sepatu tapi bila sedang kosong perbankan kami, cuci mata saja sudah cukup membuat hati menjadi senang.
Namun kadang keuangan yang menyurut jauh sering mewajibkan kaki dan mataku diam saja di rumah, tapi diam tidak berarti mematung di depan televisi biasanya aku isi dengan menulis atau bergosip ria dengan teman, dan bila hati rindu dengan ayah bunda kusalurkan melalui jaringan yahoo messenger dimana bisa kulihat bentuk nyata mereka.

Pelangi memang tidak selalu lewat di kehidupanku, sering awan mendung singgah mengelabui hati. Karena suami karena orang tua, karena anakpun bisa tapi yang sering memang karena kerinduan akan kampung halaman dan nostalgia pekerjaan lamaku yang hingga kini sering menjadi dambaan sejati.
Bila sudah begitu, coretan-coretan akan terpencar di mana-mana. Korban selanjutnya adalah suami, uring-uringan menjadi salah satu pengisi acara di hari itu, dan gerakan tutup mulut sebagai akhir dari episode di babak itu.

Bila bintang berkelip bertaburan atau ketika  matahari terang menderang hatiku pun girang. Berarti anak ku tak akan tersentuh oleh bawelan si ibu dan suami akan kumanjakan semalaman.
Sayang memang kejora tak selalu nampak dan mataharipun sering tertutup awan kelam, namun bila selamanya senang kurasa kebosanan akan tergenang lama.

Merah kuning hijau di langit yang biru...
Untung saja aku tidak melihat kehidupan dengan dua warna seperti kata orang hitam dan putih. Sejak kecil aku selalu protes bila ada orang yang bicara tentang hitam putihnya kehidupan. Ada apa dengan dengan merahnya kehidupan? atau kuning? kenapa tidak bisa di jadikan simbol kehidupan? lalu mulailah mereka bicara dengan serius sambil membawa teori yang tak kusukai. Keras kepala dan hati memang sudah menjadi lambang yang tertulis besar di jidatku sejak kecil. Kataku "bila manusia memakai istilah dua warna untuk kehidupan lebih baik jangan menamakan dirinya manusia utuh" terang saja bentakan kencang muncrat di mukaku, tapi cipratan itu tidak mematahkan semangatku berdiskusi, dan memang pada akhirnya mereka lebih memilih menghela napas karena letih atau putus asa.

Hingga kini aku selalu melihat kehidupan penuh dengan warna dan aku yakin warna yang ada pun tidak mencukupi sebagai gambaran dari kehidupan seseorang.

Pelangi-pelangi ciptaan tuhan.....hanya tuhan yang tahu warna apa setiap kehidupan seseorang, yang pasti tidak hanya hitam putih.





Publicité

Publié dans ocehan penulis

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :
Commenter cet article