8 (Part 2)

Publié le par pasar

Payudara...tempat tinggal...salah paham...


MELIHAT payudara bukan hal yang asing sebenarnya, tapi bertebaran begitu banyaknya tentu saja tontonan menarik, apalagi beragam bentuknya. Aku sudah berusaha untuk bersikap acuh tapi memang dasar dari negara serba tabu mata ini berkali-kali curi pandang. Herannya suamiku benar-benar tidak memperdulikan ketabuan ini, kini aku mengerti anakku yang akan beranjak 9 tahun pun sudah menganggap berjemur di pantai tanpa sehelai benang menutupi badan mereka adalah hal yang biasa, begitupun dengan diriku kini bila melihat kejadian tabu tadi mata sudah tak perlu lagi curi-curi pandang.

 


Pantai yang sering kami datangi ternyata memang terkenal di kalangan eropa  sebagai tempat wisata terutama bagi mereka yang berjiwa nudis. Di Cap d’agde, kota tempat rumah pantai mertuaku itu terdapat satu wilayah di mana mereka para nudis bebas berkeliaran secara nyaman di berbagai tempat, istilahnya selama liburan itu yang namanya baju tak akan mampir di tubuh mereka. Pernah aku dan suami mencoba mendatangi daerah itu hanya karena rasa penasaran tapi langsung di tolak petugas palang, karena kawasan itu di khususkan bagi para nudis dan karena kami menolak menanggalkan pakaian maka kami di persilahkan pergi. Ketika ku utarakan bahwa tak mungkin kami bertelanjang di depan anak kami, jawab si petugas begitu santainya “madame di sini yang bertelanjang itu dari mulai anak hingga nenek mereka” kalau tak ingat rasa sopan santun tentunya aku sudah terbahak bahak membayangkan bila nenekku bertelanjang di depan aku cucunya…kurasa aku akan mimpi buruk selama bertahun tahun.


Salah satu yang kusesali dari liburan musim panas itu adalah, ke cacatanku  dalam berenang. Ketika ku ungkapkan kalau aku tak bisa berenang selain gaya luncur, keluarga David memperolokku, di kiranya aku hanya bercanda. Di sini sejak TK anak-anak sudah di perkenalkan dan di wajibkan paling tidak terapung dalam air, sementara aku ketika kecil tak henti-hentinya cerita soal Nyi rolo kidul bernyanyi sumbang dalam telingaku sehingga setiap kali melihat laut aku selalu berusaha tidak memakai pakaian hijau dan hanya membasahi kaki, takut jadi korban si ratu laut, walaupun si ratu lautnya secantik Suzana.


Di akhir bulan ke 8 david memutuskan akan bekerja di bidang penerbitan sastra, kami pun sudah seharusnya meninggalkan rumah mertua. Kesulitan lainnya di mulai yaitu untuk menyewa apartemen, di mana gaji seseorang menjadi standar untuk bisa menyewa tipe apartemen. Di sini tipe apartemen berdasarkan ruangan, bila kita menyebutnya F3 berarti terdiri dari dua kamar dan satu uang tamu, dapur dan yang lainnya tidak termasuk dalam hitungan. Karena baru memulai hidup mandiri maka kami pikir tipe F3 yang kami cari, namun ternyata untuk pegawai baru, tipe ini di anggap sedikit berlebihan hingga mereka sering meminta standar gaji yang cukup tinggi. David baru memulai sebagai karyawan tentu saja masa itu gajinya masih pas-pasan. Tapi kami yakinkan agen perumahan bila tabungan kami mencukupi untuk hidup hingga satu tahun di tambah orang tua David bersedia membantu kami bila kami mengalami kesulitan, tapi ternyata masalah tidak hanya di situ, posisiku sebagai orang asing yang tak berkerja membuat mereka merasa sedikit terganggu.


Rasis pertama yang menerjang di negara Prancis ini membuatku geram sekali, mereka benar-benar melihat kita sebagai pengungsian yang mencoba mengadu nasib di negara maju. Bila tidak ingat dasar pendidikan akan santun yang di terapkan orang tua ingin rasanya setiap kali orang prancis mulai merendahkan diriku karena orang asing, ku muncrati mereka dengan kata-kata tak senonoh tapi untungnya harga diriku masih bisa ku pegang.


Pelecehan sebagai orang asing juga kurasakan karena keterbatasan bahasa, mereka kurang menyukai berbahasa inggris, kebalikannya dengan di Indonesia yang begitu menyanjung bahasa asing ini. Rasa kebanggaan orang prancis terhadap bahasanya kadang memang berlebihan, bagi mereka bahasa merekalah yang paling tinggi dan indah juga di karenakan tingkat kerumitannya, semakin banggalah mereka sebagai penggunanya. Begitulah yang sering terjadi  setiap kali melihat-lihat apartemen, David yang selalu berbahasa indonesia denganku dan menterjemahkan segala sesuatunya sering membuat agen perumahan merasa terganggu karena tak mengerti dengan pembicaraan kami. Hingga seringkali bila ada apartemen yang cocok dengan kami tapi karena kesal dengan sikap agennya aku langsung menolak mentah-mentah. Sampailah kami bertemu dengan satu agen yang begitu ramah entah ramah atau memang dia tak acuh, yang penting baginya apartemen yang ditawarinya cepat laris. Kebetulan apartemen itu cocok dan ukurannya lumayan luas hingga saat itu juga kami saling menyepakati dan tidak ada kata reseh dalam persetujuan di atas kertas, kami menandatangi apartemen itu bulan oktober tanggal 8.


Hampir dua tahun sudah aku menetap di negara Chirac ini, sudah setahun juga aku mulai kuliah lagi di bidang sastra prancis khusus orang asing di universitas Paul Valery. Anakku Adam sudah mengenal yang namanya tempat penitipan anak, pagi dia berada di sana dan siang ibu mertua yang menjaga. Perubahan mulai terlihat disekitar, selain dengan keluarga David yang semakin terbuka juga dengan lingkungan sekitar, semua di karenakan bahasa. Begitu aku mulai mempergunakan bahasa mereka, rasanya perbauran antara kami menjadi lebur berbeda sekali ketika aku masih menggunakan bahasa inggris. Bila ada istilah bahasa sebagai persatuan itu kualami benar, mereka pun mulai menaruh hormat, mungkin karena merasa bahasa mereka begitu sulit hingga orang asing yang mau mempelajari bahasa mereka sangat di hargai.


Namun terkadang ada istilah bahasa sehari-hari yang terkadang masih kurang aku tangkap, pengalaman ini tak pernah ku lupakan. Siang hari ketika pulang kuliah aku coba mengejar bis pulang, hari itu aku memang tergesa-gesa karena sudah hampir telat menjemput Adam di Halte Garderie (tempat penitipan anak). Tak lama menunggu, bis ku datang, tepat siang hari seperti ini memang selalu penuh dengan para pekerja yang keluar mencari makan atau orang yang selesai berbelanja. Sampai di depan supir bis kukeluarkan selembar uang 20 euros tapi yang ada si supir malah melototiku, bentaknya “monnaie” yang ku dengar di telinga sama dengan money dalam bahasa inggris, jadi kubilang “oui c’est money” (ya ini uang) tapi dia malah makin membentak “monnaie”! lalu langsung menyerocos panjang lebar, jelas saja di otakku ini supir bego amat ya? sudah jelas kubilang ini money malah bentak-bentak apa dia pikir aku kasih uang palsu ya? sampai kuteliti lagi bila memang uangku ada cacat atau bolong. Sampai akhirnya sambil mendumel dia teriak lagi “non monnaie vous descendez“! (tidak ada uang kecil anda turun! ).


Waktu itu aku memang belum terlalu mengerti kalau yang dia maksud adalah monnaie yang artinya uang receh bagiku  uang itu adalah argent. Tapi biar bagaimanapun si supir tak berhak menolak uangku hanya saja dia memang mungkin rasis mungkin tak ada kembalian dan bila memang tak ada kembalian maka kesalahan terletak pada supir dan wajib mempersilahkan penumpang naik tanpa membayar itu sudah jadi peraturan. Sudah telat menjemput Adam anakku di tambah masalah bersitenggang urat ini membuatku jadi semakin jengkel dan juga kecewa karena tak begitu mengerti persoalan, namun tuhan memang adil seorang ibu yang iba melihatku  menawarkan membayar tiket bisku dengan mengeluarkan uang receh, katanya sambil tersenyum dan berbahasa inggris yang terbata-bata “this is monnaie not money in english”. Supir bis yang tadinya mulai berang dengan kenyenyelanku mukanya berubah merah menahan malu, entah karena tak berhasil menerangkanku dengan bahasa inggris atau malu karena tak sopan denganku tadi, lalu dipersilahkannya diriku naik tanpa membayar.

Sejak kejadian itu kutekadkan untuk memiliki sim prancis agar tak perlu lagi tergesa-gesa mengejar bis dan mengulangi hal tak menyenangkan tadi. Tapi siapa yang sangka memiliki sim prancis ternyata prosesnya panjang dan sulit tidak seperti di Indonesia yang cukup dengan permainan belakang.


Bersambung

Publicité

Publié dans Kompasiana

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :
Commenter cet article