Vendredi 27 février 2009
5
27
/02
/Fév
/2009
22:07
Will you marry me? I don't think so my love....
Heran memang manusia suka ada-ada saja, kata nikah khususnya bagi para pria prancis sering membuat bulu kudu mereka
merinding. Tapi kumpul bersama setelah satu atau dua tahun tanpa ikatan juga tidak merasa nyaman, apalagi kalau sudah ada anak. Jadi jalan tengahnya ya pacs. Apa artinya pacs? yaitu
ikatan antara dua orang yang di sah kan oleh pengadilan setempat, bedanya pacs bisa juga dilakukan oleh sejenis. Hal ini yang biasanya di pakai oleh kaum homoseksual.
Antara nikah dengan pacs tentu saja ada beda lainnya selain soal sakral, seperti soal adopsi anak, memakai nama keluarga suami dan harta warisan, pasangan dari orang yang dipacs ini,
tidak berhak melakukan atau mendapatnya. Lalu buat apa dong melakukan pacs? secara moral sebagai pengakuan terhadap lingkungan sosial bahwa mereka tidak hanya kumpul kebo tapi adanya ikatan
resmi. Secara materi? pacs ini juga sering di pakai sebagai alasan utama dalam pajak pendapatan, karena pajak seseorang yang hidup sendiri bisa jadi lebih ringan bila hidup berdua, lalu juga
untuk melindungi orang yang kita pacs secara materi, misalnya dia tidak bisa di usir dari kediaman bersama dan juga fasilitas kesehatan.
Lalu mengapa tidak menikah saja? pertanyaan itu sering saya ajukan kepada teman atau keluarga suami yang tidak menikah tapi melakukan pacs. Jawabnya sangat berbeda antara pria dengan wanita, yang
lelaki selalu menjawab dengan: “kenapa mesti menikah? rumit ah..! lagian kalau sudah menikah biasanya hubungan asmara jadi berubah, lagian kenapa bukti cinta selalu di atas namakan
pernikahan…belum kalau nanti tidak cocok dan bercerai..wah urusannya panjang dan mahalnya itu..!”
“Mahal gimana tanya saya?” “ya mahal karena nanti kalau bercerai si suami harus membayar tunjangan hidup anak dan istri bila si istri tidak bekerja, belum lagi soal harta..pokoknya
repot, mending begini ada ikatan tapi nggak jelimet..kalau mau pisah ya tinggal pisah tanpa adanya kewajiban berat”. Walah-walah kata saya dalam hati, gimana mau nikah, belum juga nikah yang ada
malah mikirin soal cerai berai dan ongkos ini itu, ya terang saja kalau urusannya ke sana sih kapan mau nikahnya.
Tapi kaum hawa beda lagi, “siapa sih yang tidak ingin menikah? pakai gaun pengantin, status sebagai istri sah..ikatan cinta yang berharga pokoknya”. Dari semua wanita yang saya tanya hanya satu
orang yang bilang “tidak berati karena sekarang kami sudah memiliki anak maka kami harus menikah!” ternyata ujung-ujungnya setelah saya tanya kepada ibunya, pacarnya sepupu saya itu sudah
bilang dari awal bahwa kata nikah tidak akan mampir dalam kamus hidupnya..ohhhhh ternyata.
Adik ipar saya lain lagi, setelah di tinggal pergi oleh pacarnya, kini memutuskan bila nanti bertemu lagi dengan pria dirinya akan langsung menyatakan bila kumpul kebo tanpa tujuan atau pacs sama
sekali tidak menarik bagi hidupnya, karena adik ipar saya ini pernah melakukan pacs dengan teman hidupnya tapi si pacar pergi dengan wanita lain dan dengan mudahnya memutuskan tali pacs mereka.
Jadi buat dia bila cinta ya menikah dan membangun keluarga.
Dulu saya pikir wanita di Prancis memang merekanya yang suka dengan kebebasan dan enggan dengan tali pernikahan. Namun setelah lama tinggal di negara ini baru saya mengetahui bila mereka juga
sama seperti wanita lainnya, ingin di lamar untuk di nikahi. Hanya saja karena si pria yang emoh menikah karena repotnya tadi maka banyak kaum hawa yang akhirnya menerima nasib, bahwa memang
sudah begitu adanya dan pernikahan bukan di atas segala-galanya.
Bagaimana dengan orang tua? sama saja, mereka juga ternyata lebih merasa nyaman bila anak mereka khususnya perempuan menikah. Sepupu saya yang sudah memiliki dua anak akhirnya memutuskan juga
menikah, ketika saya goda kenapa baru sekarang? jawabnya..”pengennya sih ya dari dulu menikah, tapi baru di lamar sekarang..ya namanya juga perempuan kalau tidak di lamar ya mau gimana?” Kaget
benar saya mendengar jawabannya, karena di Indonesia, ketika dua lawan jenis yang sudah cukup umur memadu kasih yang menjadi tembakan pertama adalah, pernikahan! Entah si pria ataupun
wanita yang memulai, kadang malah orang tua wanita yang langsung serang. Di Prancis malah main tunggu-tungguan? kok malah kebalik guman saya?
Kesimpulan saya, pria prancis ternyata bila memutuskan menikah tandanya mereka benar-benar cinta dan siap dengan tanggung jawab dan perubahan besar, kedua untung saya orang indonesia, jadi tidak
istilah kumpul bersama dulu baru menikah tapi dulu main sistim tembak, cinta ya nikah….Alhamdulillah si bule langsung ngangguk.